name='rating'/> JANGAN TERMAKAN PROVOKASI 'KATANYA' : KEUTUHAN NKRI HARGA MATI TNI
Aku ikut turun sebagai Satgas di kerusuhan Ambon, Ternate, Maluku Utara tahun  1999-2000.
Aku juga ikut Satgas Marinir Natuna Pamtas tahun 1998.
Aku juga bertugas di Aceh sejak tahun Desember 2008- Januari 2013.
Aku berkeliling di Papua hingga Port Moresby PNG tahun 1999 dalam Satgas Operasi Laut di Wilayah Timur selama 6 bulan.
Hanya di Timor Timur, aku tidak ikut turun. 

Catatan ini, bisa dianggap tidak penting karena sebagai dokter militer,  ya , memang harus turun di daerah seperti itu.
Biasa saja. Tidak ada hal yang istimewa. Karena memang itu resiko sebagai prajurit. Itulah tugasnya. 

Dan juga   bukan  semata karena uang dan materi, 
Tapi karena memang, aku dan kami prajurit TNI sudah bersumpah untuk menjaga setiap jengkal tanah air Indonesia dari aneksasi, infiltrasi, separatisme, penyerbuan, serangan atau apapun , baik dari dalam ataupun luarnegeri yang bertujuan menghancurkan NKRI. 

Termasuk Pengkhianatan.

Tapi bisa jadi hal ini menjadi hal                      'diluarkebiasaan'. Karena diusia muda, dengan  pangkat letnan dua dan letnan satu, aku sudah turut bekerja dalam misi kemanusiaan sekaligus operasi militer. Pengantin baru pula. Dua  hari setelah pesta pernikahan, langsung aku berangkat ke Papua. 

Jadi kalau bicara tentang organisasi islam yang turun waktu kerusuhan dan konflik  itu, aku paham. 

Saat itu , banyak organisasi yang turun. Ada yang memang berniat membantu. Ada yang malah bikin rusuh dan tambah kisruh. Dan Banyak. Bukan hanya satu organisasi yang sekarang populer. 

Sehingga aku dan teman teman memang harus berhati hati dan jeli, dalam memilih teman seiring dan bergandeng tangan. Karena misi kami misi kemanusiaan, bukan operasi militer.  
Disitulah aku mengenal Mercy dan mengenal  almarhum dr Joserizal Jurnalis SpOT. Sosok inspiratif dan luarbiasa, dalam membantu misi kemanusiaan. Yayasanku pun, berdiri tahun 2000, salah satunya arena terinspirasi oleh beliau.

Tapi bukan itu intinya.

Di masa itu, aku menyaksikan betapa darah tertumpah di banyak  tempat ibadah, karena sesuatu yang serba ' KATANYA'.

Katanya si A, bilang seperti ini: menghina si B, memukuli si C, membakar rumah si D. 
Dan ketika ditelusuri, semua saling lempar.
Saling tuding, saling tuduh, saling menyalahkan. 
Agama pun, dijadikan alat untuk melegitimasi suatu  yang dianggap benar. 
Padahal belum tentu 'benar' kebenarannya.

Dan ketika aku pelajari, ternyata motifnya kebanyakan adalah kesenjangan ekonomi. Buntut- buntutnya duit.
Dan yang lucunya, ada yang sebetulnya, hanya masalah persaingan memperebutkan pacar dan wanita. Ngga penting banget. 
Tapi ini nyata. 

Kemudian, saling provokasi pun terjadi. Saling tuduh, saling ancam dan mulai  membawa kelompoknya sendiri sendiri. 
Dan disini, entah bagaimana, mobilisasi kekuatan pun terjadi. 
Orasi dan provokasi muncul dimana mana. Antara satu kelompok dan kelompok yang lain pun , mulai berhadapan-hadapan.

Dan tiba tiba saja, parang, golok, senjata rakitan dan senjata tempur otomatis pun, dengan cepat terhimpun. Simsalabim, langsung tersedia. Di masing masing kubu. 
Aku sampai bingung, dari mana senua ini mereka dapatkan. Artinya, ada yang sengaja memasok ,untuk memperparah konflik, sehingga terjadi kerusuhan berkepanjangan.

Lalu terdengar info, ada yang terpancung kepalanya di perkebunan. Beramai ramailah kelompok A itu kesana. Dan memang ada yang terbunuh. Kepalanya terpenggal, dan hilang.

Tanpa melalui prosedur hukum, dan aturan, langsung saja mereka putuskan.  Kelompok B lah pelakunya dan harus bertanggung jawab.

Lalu di pagi buta, selesai adzan subuh, penyerbuanpun terjadi. Perang Saudara pun tersulut.

Kami yang ada dalam misi kemanusianpun, ditarik mundur. 

Namun, aku kebetulan kenal pimpinan kedua kelompok itu. 

Sebelum kembali ke kapal, aku sempat ajak bertemu. Dan mereka pun datang.

Aku bertanya sederhana, " Apa bukti kalau kelompok si B ,yang melakukan?".
Jawab B, " KATANYA, si anu, begini dan begitu".
Aku bertanya" Ada bukti? Bagaimana kalau ini adalah adu domba, agar kita berhadap hadapan, sehingga negara kita rusuh? Coba kalian lihat, karena sesuatu yang 'Katanya', kalian saling membunuh dan kehidupan yang tenang, tercabik-cabik?".

Mereka diam, menunduk. 

Aku bilang" kita sedang di adu domba, jangan termakan provokasi. Ingat kami TNI, sudah bersumpah dengan darah , keringat dan airmata kami, untuk menjaga keutuhan NKRI.

Bantu kami, dengan tidak mudah tersulut. Gampang marah, mudah emosi. Apalagi dengan saudara kita sendiri. Kami tidak akan menumpahkan darah saudara kami. Lalu mengapa antara kalian harus saling menyerang dan membunuh, hanya karena sesuatu yang ' Katanya'? ".

" Anda adalah pemuka masyarakat, pemimpin agama di kelompok kalian masing masing. Bergandengan tanganlah. Jadilah panutan. Jangan mudah terprovokasi dan jangan mudah memprovokasi.  Ingat ,kata kata anda, akan dibenarkan oleh orang yang bersimpati dengan anda. Tapi, belum tentu dibenarkan oleh kelompok yang lain . Negara ini ada aturannya. Jangan main hakim sendiri. Karena kalau itu terjadi, pada akhirnya, kerugian itu terjadi pada bangsa kita sendiri".

Dan pembicaraan pun selesai. 
Mereka pun berpelukan. 
Dan meski sangat kecil dan tidak berarti, 'bisa jadi'itu bagian yang membantu meredanya konflik di Ambon dan Maluku Utara. 

Dan sekarang, zaman sudah memasuki era 5G bahkan 6G. Dimana provokasi, adu domba, devide et impera, cukup melalui tombol keypad dan youtube.

Dengan mudah, kita mengirim orasi tokoh , artis atau siapapun itu, untuk menyampaikan sesuatu, yang 'tanpa disadari' diskenariokan untuk membuat kisruh NKRI. 

Apa targetnya ?  Instabilitas.

Karena Indonesia adalah negeri terseksi sejak dulu kala. Menjadi ladang rebutan imperialisme dan kapitalisme global dunia. Dan Indonesia yang stabil, bersatu dan kuat, adalah ancaman bagi hegemoni dunia.

Mereka tidak menginginkan persatuan di Negeri tercinta ini. Karena persatuan yang kokoh, akan membuat bangsa Indonesia melesat hebat.

'Mereka', tidak akan pernah berhenti ,untuk mengadu domba antar anak bangsa. Antar sesama rakyat. Sejak mulai Indonesia Merdeka. 'Mereka', membuatnya melalui dengan membuat  negara boneka RIS, DI/TII, Permesta , G30SPKI, Malari, Tanjung Priok, Timtim,  Sampai kerusuhan ambon/ Maluku/Poso, Singkawang, dan separatis OPM. 'Mereka' Mengadu domba, menunggangi dan  menjadikan  agama, isme, isu kemanusiaan dan HAM  sebagai kendaraan untuk saling membenturkan antar kelompok dengan tokoh A dan dengan tokoh B.

Sungguh ini sangat membahayakan stabilitas negara.

Dan sudah banyak bukti.

Sudah aku saksikan sendiri, di luar negeri sana,  banyak anak negeri yang luarbiasa berprestasi. Yang ingin kembali ke negeri ini, namun prihatin dengan bahaya disintregrasi. 

Jika dibiarkan ,  negeri kita ini carut marut dan kisruh, bisakah kita menarik mereka, untuk kembali mengabdi di negeri sendiri? Bagaimana mengharap Indonesia Maju, Kuat, Hebat dan Bermartabat? 

Cukup dan hentikan provokasi.
Karena ada yang menunggangi momentum ini
Jika diteruskan, pasti TNI tidak akan berdiam diri.

BG.21.11.2020

#ResepDokterGeJeBlangkonputih
#JagapersatuanNKRI
#TNIHormatulamayangcintanegeri


0Comments

Previous Post Next Post