name='rating'/> PaK Malin Kodak
Baru saja kegiatan Genderang Suling Taruna KJK di Lapangan Mako Lantamal 2 Padang, sahabatku Kolonel Arwani, langsung memberi perintah gerak cepat. " Kita ketemu makan Sop Kepala ikan di Pak Malin. Nanti ada driver yang antar, yang tau tempatnya".

Jujur, sebagai tentara, kami tidak takut mati. Hanya kadang kala (tapi sering juga sih), kami takut lapar.hahaha.

Jadi perintah makan adalah perintah pendudukan lokasi sasaran. Yang harus segera direbut. Dan tanpa" ba bi bu", beradu argumen, pasukan pun bergerak. Menyerbu Sop ikan Pak Malin.

Titik koordinat pun ditentukan. Daripada salah sasaran serbuan. Karena ada juga yang namanya Malin Kundang. Si anak durhaka pada ibunya. Tentunya bukan itu lokasi pendaratan pasukan. Tapi ini Pak Malin Sop kepala ikan, yang cinta pada ' bundo kanduang".

Koordinat ada di di dekat Kota Padang, ke arah selatan menuju Painan.  Berjarak 50 km di sekitar Pelabuhan Samudra Bungus.

Pasukan pun bergerak. Cukup satu kendaraan saja.   Sepanjang jalan,  pemandangannya cantik.  Untuk menuju lokasi harus melalui jalan raya dari Padang arah ke Painan, yakni setelah gardu induk PLN Bungus, belok kiri masuk sejauh sekitar 75 m.

Disitulah warung makan tempat serbuan dilangsungkan. Dan agar tak salah menyerbu di warung lain, koordinat harus jelas. 

Memang Warung Pak Malin sudah cukup dikenal oleh warga kota Padang, sebagai rujukan untuk makan siang. Namun, banyak orang luar Padang belum kenal lokasi ini. 

Lokasinya memang " senyap". Masuk ke perkampungan. Jika belum terbiasa, akan sulit mengetahuinya.  Tempatnya tepat di tepi sawah. Santapan Sop kepala ikan.

Lalu apa yang membuat kita harus "menguasai" warung makan Pak Malin? 

Ada tiga  hal.

Pertama,  menu khasnya adalah gulai kepala ikan kakap yang lezatnya maknyus.
Dengan kuah santan kekuningan  kental beraroma wangi khas.  Pooll maknyusnya.

Gule ikannya,  dihidangkan dengan sayur daun singkong, terong balado  ikan asin dan jengkol. Ikan kakapnya pun dimasak sangat pas, empuk.  Menyatu dengan kuah gulai. Aroma bumbu rempah pala., sungguh membuat pertempuran bersama nasi dan jengkol yang tak kunjung usai.  


Kedua,  andalan warung makan Pak Malin adalah lingkungan pemandangannya sebenarnya tampak sederhana saja.  Hanya seperti rumah atau warung yang kecil. Di depan ada tiga meja makan, untuk 15  orang. Tapi jika  masuk terus ke belakang, di sana masih ada sebelas meja besar, bisa memuat 70 orang.

Tiga meja di antaranya adalah lesehan, dengan pemandangan di luar hamparan padi sawah menguning. Udara terbuka dan angin segar memberi sensasi yang berbeda, Seperti makan di tengah sawah.  

Yang ketiga, aku memandang ke dinding kayu . Tampak beberapa foto. Rata rata pejabat dan jendral. Bahkan ada foto presiden Jokowi. Berfoto bersama seorang pria separuh baya.

Yang ketiga, ini yang asyik banget. 

Saat selesai makan. Pak eko, sang pendampingku, bergerak mengurus administrasi. Karena dia yang memegang amunisi. 

Tiba tiba , ada pria tua duduk mendekat.
Dengan baju batik ala kadarnya, berpeci hitam. Tak terkacing pula bajunya. Sehingga singlet berkeringat pun, tampak jelas.

Tidak pula memperkenalkan diri, siapa dia.

Langsung dia berkata,
" Bapak, saya boleh minta kodak? ".
Bengong dan bingung lah aku. Apa tidak salah kata atau kalimat?
" maksud bapak minta Kodak?". Tanyaku masih bingung.

" iya pak, boleh saya kodak dengan bapak". Sembari memberi kode tangan. Cepret. Ceptrek.

Ya ampun. Masya Alloh.
" Maksud bapak, bapak mau foto dengan saya, ayo pak" kataku tetawa terbahak bahak.

" iya pak berkodak dengan bapak".
Oke pak siaaapppp


Adakah sekarang ini yang masih mengenal Fuji, Sakura, Kodak? Hahaha. Anak anak kita pun mungkin sudah tidak mengenalnya. Karena ini sudah era milenial.

Diapun minta ijin berganti baju. Dan pria sederhana ini hanya berganti,  memakai baju koko putih .  Baju terbaik miliknya. 

Pak Malin, beliaulah ternyata pemilik sop ikan ini. 

Kata kodak yang mengingatkanku, bahwa betapa nama baik itu adalah harta berharga yang selalu diingat.

Baju koko putih ,  baju terbaiknya , yang mengingatkanku bahwa sehebat apapun yang kita punya, hanya selembar kain ini yang akan menemani di liang lahat kita.

Pak Malin, Kodak dan baju koko, amunisi tempur yang mampu mengalahkanku dalam pertempuran ini.
Aku kalah dan dalam senyum, aku beristigfar. Betapa bapak sederhana ini, mengajarku banyak hal. Melalui keluguan, kepolosan dan juga keikhlasannya.

Selalu ada ikhtibar baik di tempat makan yang baik.
Alhamdulillah

Bungus 10.10.2020
Hisnindarsyah
Dokterblangkonputih










0Comments

Previous Post Next Post