name='rating'/> Desa Tomok, Toba dan Samosir
Sejuknya udara plus perpaduan warna biru, hijau, merah, hitam, dan putih, itu pesona khas Danau Toba. Biru dan hijau adalah warna danau dan bukit, sedangkan merah, hitam, dan putih itu warna budaya Batak Toba.
Untuk mencapai lokasi danau dengan pulau di tengahnya yang terkenal, Samosir, menempuh 170 km dari medan

Dari Perapat menyebrang ke Pulau Samosir, dengan menumpang KMP atau kapal Ferry butuh waktu 1 jam. Suara rekaman rocker wanita pribumi melantunkan lagu lewat pengeras suara, mencoba menghibur penumpang selama perjalanan.

Setelah sampai di Pulau Samosir, perlu waktu sekitar 20menit  menuju ke desa Tomok. Suatu skampung Batak Toba di Pulau Samosir. "Para penumpang satu jam lagi harus kembali ke kapal," kata seorang krew. Nampaknya cuaca sdg kuramg bersahabat.
Waktu yang amat pendek untuk mengenal budaya Batak Toba di pulau kecil itu.

Di depan pintu masuk Kampung Tomok, seseorang menghadang, "Bayar karcis masuk, Pak."
Inilah salah satu kampung di Indonesia yang pakai karcis masuk bagi para pengunjung.

Selangkah melewati gerbang, di muka terhampar sebuah pasar suvenir, mirip pasar seni. Ulos, ukiran kayu, kalender Batak, gondang, alat bunyi-bunyian macam garantung, hasapi dan sordan, tas kulit, dan T-shirt bergambar Danau Toba.

Mendaki bukit sebentar, terdapat rumah adat Batak yang terkenal dengan bentuk dan hiasannya. Rumah-rumah Batak berhadap-hadapan utara-selatan.
Sebelah kiri rumah tinggal atau yang disebut ruma, di kanannya adalah rumah sopo, biasanya untuk lumbung padi, tempat menginap tamu, dan wanita bertenun ulos. Di tengah-tengahnya terhampar pelataran yang lebar, berfungsi ganda sebagai tempat bermain anak-anak, tempat acara kampung, dan juga tempat menjemur.

Pada sebuah  rumah sopo, seorang  lelaki tua melantunkan lagu-lagu Batak.
Di dekatnya berdiri termangu sigale-gale, boneka kayu yang terkenal itu.

Maklum saja, Tomok adalah kampung terkenal dalam pariwisata internasional Danau Toba. Kampung yang paling banyak dikunjungi wisatawan dibandingkan dengan kampung-kampung Batak lainnya.

Yang khas dari rumah adat Batak Toba, arsitekturnya menggambarkan seekor kerbau. Atapnya yang melengkung di bagian depan seperti tanduk kerbau, dan tiang-tiang pada kolong rumah menggambarkan kaki-kaki kerbau.

Konon, bentuk rumah ini melambangkan kosmologi. Atap rumah adalah benua atas tempat dewa, lantai dan dindingnya lambang benua tengah tempat manusia, dan kolong rumah adalah benua bawah sebagai tempat kematian.

Dalam keseharian, kolong rumah berfungsi  sebagai tempat binatang piaraan seperti kerbau, sapi, babi, dan kuda. Dinding depan rumah menjadi pusat perhatian.

Merah, putih, dan hitam yang menjadi wama Batak, menyemarakkan ukir-ukiran kayu yang terpajang. Warna itu telah kusam dan luntur karena matahari, hujan, dan atap yang bocor.  Ragam hias geometris, flora, fauna, danalam didptakan dengan teknik ukir dan lukis.

Drs. S.P. Napitupulu dkk, dalam bukunya Arsitektur Tradisional Daerah Sumatera Utara (1986) menulis, segala ragam hias yang dibuat mempunyai arti dan makna. Ada hiasan simeol-eol, seperti sulur-suluran tumbuhan dengan putaran garisnya melengkung ke dalam dan meliuk ke luar.
 Hiasan ini mencerminkan perasaan yang senantiasa gembira dari si penghuni. Atau hariara sudung ni langit, ragam hias seperti pohon dan burung di rantingnya, mengungkapkan sumber kehidupan.

Ada juga ragam hias berbentuk kerucut dengan warna-warni merah, hitam, dan putih. Ragam hias ini biasanya terdapat di atas kolong tangga masuk ke dalam rumah, melambangkan kesuburan, juga sebagai lambang kasih sayang ibu.  Inanta parsonduk bolon, kata orang Batak Toba.

*Tradisi prasejarah*

Jalan ke atas semakin ramai dengan pengunjung dan pedagang. Tak lama kemudian sampai ke sebuah tempat agak tinggi. "Ini kompleks makam Raja Sidabutar," seorang pemandu wisata keturunan Sidabutar mulai menerangkan dalam bahasa Indonesia dan Inggris.
Yang mencolok dari kompleks makam itu adalah sebuah wadah kubur dari batu dengan panjang lebih dari 2 m. Dalam kalangan arkeolog, benda kematian itu disebut sarkofagus. Bentuknya mirip kapal dengan bagian depan dan belakang dipahat melengkung ke atas.

Bagian depan ada pahatan topeng manusia. Pada bagian atas di belakang dipahat pula manusia dalam sikap duduk dengan kedua tangan memegang lutut.
Ada lagi sarkofagus yang pada bagian belakangnya dipahatkan seorang tokoh dalam posisi menunggang sambil menjunjung dan memegang suatu benda. Inilah wadah kubur Raja Sidabutar yang pernah memerintah di Pulau Samosir.

Sarkofagus bukan hanya ditemukan di Tomok. Di Balige, di sebelah tenggara Danau Toba, banyak ditemukan kuburan macam itu.
Menurut seorang arkeolog, bentuk kubur macam makam Raja Sidabutar lambat laun berkembang menjadi bangunan kubur berbentuk punden berundak, seperti makam Raja Parluhutan Siahaan di Kampung Sosor.

Perkembangan bentuk terakhir wadah kubur yang berlangsung sampai sekarang adalah bentuk persegi empat yang dibangun dari bahan batu dan semen; dan tidak menggunakan bahan batu besar lagi.
Wadah kubur macam ini biasanya berhiaskan topeng, kepala kerbau atau binatang yang menakutkan, seperti terdapat pada wadah kubur Raja Marsundung Simanjuntak di Kampung Huta Bulu.

Di sebelah sarkofagus Raja Sidabutar terdapat  sarkofagus berhiaskan gambar salib di bagian depan. Ini berasal dari masa yang lebih muda. Hiasan pahatan binatang dan topeng sudah tidak ada lagi karena tokoh yang dikuburkan di dalamnya telah memeluk agama Kristen, agama yang  pertama kali masuk ke tanah Batak di Sibolga pada tahun 1820.

Wadah kubur ini merupakan penguburan kembali dalam bentuk permanen agar tercipta hubungan yang dekat antara keturunan yang masih hidup dengan si mati.

Ini adalah kepercayaan dari masa prasejarah orang Batak. Setelah masuknya agama Kristen, sarkofagus sudah tidak dibuat lagi. Cukup batu dan semen dengan hiasan yang dipengaruhi unsur budaya Kristen.

Selesai menjelaskan soal kompleks makam Raja Sidabutar, sang pemandu wisata lalu secara profesional menggiring wisatawan ke pintu keluar. 

*Marcos keturunan Batak*

Semua pengunjung kembali ke fery masing-masing. Pulau Samosir, tanah leluhur orang Batak, sebentar lagi ditinggalkan. Di pulau ini 3.000 tahun lalu, nenek moyang Toba telah bermukim di sekitar Gunung Pusuk Buhit, letaknya di dekat Kota Pangururan.

Mereka lama mengisolasi diri, lalu mulai menyebar berangsur-angsur ke daerah lain di sekitar Danau Toba, dan sekarang orang Batak dapat dijumpai di berbagai pelosok Nusantara.

Menurut catatan S.P. Napitupulu, mantan Presiden Filipina Ferdinand Marcos itu keturunan suku bangsa Batak di Propinsi Ilocos Utara di Pulau Luzon. Di Pulau Bataq.

Menurut dongeng, nenek moyang suku bangsa Ilocon berasal dari Sumatra yang terdampar di Pulau Luzon ketika mengarungi Laut Cina. Ditilik dari potongan, tampang, gerak-gerik, dan gaya bicara, orang Ilocon mirip dengan penduduk di sekitar Danau Toba.

Di kaki Pusuk Buhit tinggal si Raja Batak dengan keturunannya. Banyak orang Batak yang yakin, si Raja Batak yang menurunkan marga-marga ini adalah keturunan dewa.

Dikisahkan Dewa Mula Jadi Na Bolon mengirim putrinya, si boru Deak Parujar, dari langit untuk menciptakan bumi dari segumpal tanah.

Namun pekerjaan ini mendapat gangguan dari si Raja Padoha, sehingga sang putri terpaksa merantainya di bawah bumi (kalau terjadi gempa bumi, orang Batak percaya hal itu disebabkan oleh Naga Padoha yang menggoyangkan kepalanya karena digigit nyamuk).

Setelah tugasnya berhasil, sang putri kawin dengan si Raja Odap-odap, juga putra Dewa Mula Jadi Na Bolon yang diturunkan ke bumi. Dari perkawinan kembar ini lahirlah si Raja Batak.

Keturunan si Raja Batak ini diakui memiliki kebudayaan yang tinggi, dan bukanlah bangsa primitif yang hidup nomaden. Orang Batak kuno telah memiliki kasara (huruf Batak), buku pustaka, ilmu perbintangan, ilmu pertanian, kalender, dan telah mengenal konsep kedewaan seperti Trimurti pada agama Hindu.

Bila Tuhan telah menganugerahkan sebuah danau biru yang luas dan pegunungan yang indah, orang Batak melengkapinya dengan arsitektur rumah adat, ukir-ukiran, tortor, ulos, pantun turi-turian, doa puitis tonggo-tonggo, serta musik kecapi yang indah.

Perpaduan karunia Tuhan dan isi budaya Batak ini benar-benar mampu mencengangkan wisnu dan wisman yang datang ke Danau Toba.

Semua itu ada di Tomok, sebuah desa tradisional yang menjadi  salah satu daerah tujuan wisata internasional di Propinsi Sumatra Utara.

4 Agustus 2019



0Comments

Previous Post Next Post